Jumat, 28 September 2012

Jika Guru Adalah Jalan Saya

Guru adalah sebuah profesi yang sangat teladan menurut saya. Dilihat dari kacamata manapun pasti tak ada yang menampik bahwa hidup kita selalu berhubungan dengan guru walaupun kita sudah tidak mengenyam bangku sekolah. Tapi, tak pernah sebelumnya saya berfikir akan melanjutkan kuliah di jurusan matematika dan berada di prodi pendidikan matematika yang notabene akan menjadi seorang pengajar.


Baru satu bulan saya menempuh perkuliahan dan kata dosen saya 2 semester ini saya belum akan bertemu dengan matematika. padahal 1 tahun itu terhitung lama dan selama itu pula saya belum bertemu matematika. Tapi karna saya sudah terlanjur tercebur maka hal yang harus saya lakukan agar tak tenggelam hanyalah berenang. Memulainya dengan niat, 'Okelah jikalau ini memang jalan saya, berilah kelancaran ya Alllah'. Dan menjalaninya dengan sebaik yang saya bisa lakukan.

Terbersit harapan jikalau memang guru adalah jalan saya, besar harapan saya bisa menjadi guru yang baik, yang bisa memaksimalkan potensi anak didik saya nantinya. Menjadi pertransfer ilmu dimana ilmu yang saya transfer bisa dipahami anak didik saya secara maksimal. Mereka menjadi paham dan termotivasi untuk menggali ilmu lebih dalam sampai ke akar-akarnya.

saat menulis ini, saya tak tau apakah guru memang jalan hidup saya. Tapi ketika memang itulah takdir dan jalan hidup saya semoga saya bisa berkontribusi sebaik mungkin yang saya bisa. Dan semoga bisa mengantarkan anak didik saya menjadi manusia yang optimal dalam segala hal..





Rabu, 19 September 2012

I'm in abstract Area


Tak pernah sebelumnya saya membayangkan akan terjerumus dalam dunia yang penuh dengan keabstrakan. Ya keabstrakan. Mempelajari hal yang abstrak, bergelut dengan hal yang abstrak dan menghitung sesuatu yang abstrak. Everything is abstract. Mengenalnya sudah lebih dari 5 tahun tapi tak pernah sedikitpun saya mengetahui bahwa saya mempelajari sesutu yang abstrak bahkan sampai detail-detailnya juga abstrak. Ini sangat-sangat keterlaluan. Dan saya berfikir 5 tahun ini saya kemana saja???  5 tahun berada dalam kesesatan yang  tak ada 1 orangpun yang pernah meluruskannya. Padahal 5 tahun ini saya bertemu dengan bemacam orang yang menurut saya sudah profesional dibidangnya. Hmmm... I don’t know who is do mistake in there.. but, I only know that now I’m in abstract area..

Bilangan dan angka  adalah abstrak. Garis, bidang, bangun ruang, dan all about in mathematic is abstract. Ketika saya berada dalam kelas geometri, salah satu dosen saya menanyai saya,
 “ bisakah kamu menghitung berapa panjang garis?
Dan dengan polosnya dan dengan yakin tiada terkira  saya menjawab,
 “ bisa pak”
 lalu dia menanyai saya lagi ,
“ pernahkah kamu melihat garis?”
 ya karna pada detik itu saya masih dalam area kesesatan ya saya jawab,
” pernah pak”
Dia masih menanyai saya lagi “ dimana?”
Karna pada waktu itu ada gambar garis di papan tulis maka saya menunjuk garis itu’
“ itu pak, yang ada di papan tulis”
Dia tak menjawab apa-apa awalnya, hanya tersenyum dengan senyum yang entahlah. Mungkin dia berfikir bahwa ini anak kok seenaknya jawab pertanyaan, sudah begitu PeDe lagi jawabnya. Namun, setelah beberapa detik, dia menjawab,
“ itu bukan garis, tetapi ruas garis. Matematika adalah abstrak jadi semua yang ada didalamnya juga demikian. Garis itu abstrak. Hanya ada di dalam fikiran kita. Ketika kita mengukurnyapun tak bisa karna garis adalah abstrak. Yang digambar di papan tulis adalah simbol dari garis, namanya ruas garis”
“oooooo.........,”
Tak pernah ada luas persegi panjang, tetapi luas bidang persegi panjang. Karna persegi panjang adalah sekali lagi saya harus menuliskan ABSTRAK.

Semua objek matematika yang dapat kita lihat adlah simbol dari objek asli matematika yang abstrak. Dan mata kuliah Geometri yang dulu saya kira banyak menggambar telah sirna. Semuanya dibanyangkan dan hanya pada kondisi darurot dan genting, kondisi dimana alam bayangan kita sudah tidak mampu lagi untuk membayangkanlah aktivitas menggambar itu ada.

Keabstrakan ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi mulai sekarang keabstrakan itu akan menjadi makanan setiap hari saya. Ehmmm, sulit mengekspresikan harus bagaimana perasaan saya bertemu dengan keabstrakan. Senyumkah, bengongkah, sedihkah atau bahkan lama-lama bisa jadi saya menjadi abtsrak  sekalian.. I don’t know.. hahaha




Rabu, 05 September 2012

man jadda wajada

Man Jadda Wajada, kalimat yang dijadikan sebagai "mantra" oleh ahmad fuadi sang penulis novel best seller 'Negeri 5 Menara' ini telah menginspirasi banyak orang termasuk insan perfilman indonesia. Hari ini tanggal 5 September 2012 tepat di hadapanku berdiri sosok yang telah menggaungkan 'mantra' ini. Ternyata orangnya sederhana dan jelas sekali terlihat bahwa di parasnya sudah mencerminkan sosok yang selalu semangat, pantang menyerah dan berani keluar dari zona aman dan zona rata-rata.

Sosoknya tidak begitu banyak bicara tapi sedikit bicaranya itulah yang selalu bermakna. Kata-kata yang keluar darinya tidak heboh seperti motivator-motivator pada umumnya tetapi pilihan kata yang dipakainya selalu membuat saya tersenyum. sedikit lirih tetapi saya bisa menangkap bicaranya.

Ada salah satu kalimat yang menginspirasi saya ketika dia bercerita tentang masalah beasiswa. Dia telah banyak mendapatkan beasiswa ke luarnegri dan semuanya bergengsi. kembali ke kalimat tadi, dia mengatakan bahwa 'orang yang mendapatkan beasiswa bukanlah karna dia pintar tetapi lebih karna dia melebihkan usahannya diatas rata-rata'. setiap saya menempuh pendidikan selalu yang saya harapkan adalah beasiswa. bukan karna orang tua saya tidak mau membiayai pendidikan saya tetapi ada kesenangan tersendiri ketika mendapatkan sesuatu dari apa yang telah kita kerjakan khususnya dalam bidang pendidikan.

siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan, menjadi motivasi bagi saya untuk menggapai cita-cita. Karna saya percaya Allah selalu disisi saya, Dia mengetahui lebih daripada saya. Tugas saya adalah bersungguh-sungguh dan sabar serta yakin, keberhasilan bersamaku.

semangatttt !!!