Front of The Class, sebuah film awal 2000-an tetapi aku baru mengetahui dan
menontonnya kemarin. Sangat terlambat memang tetapi ini lebih baik daripada
tidak sama sekali untuk sebuah film yang menurut saya sangat berkesan dan
memberikan banyak pelajaran bagi saya.
Menceritakan seorang
anak yang bernama Bredley Cohen yang terlahir normal pada awalnya namun
ketika berumur 6 tahun harus mengalami kelainan. Dimana otak mengirim sinyal pada sarafnya untuk
mengeluarkan suara-suara dan gerakan aneh. Mulai dari sanalah hidup Bred (red- biasa
ia disapa ) mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Hidup dengan seorang
ibu single parent dan seorang adik
yang normal bernama Jeff, kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih kecil.
Ayahnya yang sering memarahinya karna Bred sering mengeluarkan suara-suara aneh
dan dia tidak bisa menerima bahwa anaknya mengalami sebuah kelainan.
Dikeluarkan dari sekolah karna Bred dianggap mengganggu konsentrasi temannya
saat proses pembelajaran di kelas. Sering dibully
oleh teman-temannya bahkan Bred tidak punya teman sama sekali.
Namun ibunya tidak pantang menyerah dalam menyembuhkan
anaknya, sampai pada suatu ketika ibu Bred mengetahui bahwa kelainan yang
diderita oleh Bred adalah Tourette Sindrom dan tidak bisa disembuhkan. Walau
begitu ia tetap berusaha agar Bred bisa hidup normal selayaknya anak seusianya.
Ia selalu menyemangati Bred agar jangan pernah kalah dengan Tourettnya. Ia pun
harus sering mengahadap ke kepala sekolah karna Bred dikeluarkan dari sekolah,
namun ia tetap yakin bahwa ada sekolah yang akan menerima Bred kembali.
Ceritanya pun terus bergulir sampai ia lulus dari kuliah
sebagai lulusan terbaik dan melamar pekerjaan sebagai seorang guru.Karna
cita-citanya adalah menjadi guru dan dia hanya ingin menjadi guru. Awalnya
mereka terkesan dengan CV dan torehan prestasi Bred, namun berbalik 180 derajat
ketika masuk pada tahap wawancara. Hampir semuanya merasa terganggu dengan
kelainan Bred dan mereka yakin bahwa Tourette akan mengganggu proses
pembelajaran di kelas. 25 sekolah menolaknya pada tahap wawancara. Sampai pada
akhirnya ia bertemu dengan sebuah sekolah yang tidak mempermasalahkan
Tourettnya dan menerimanya menjadi guru. Ia ditempatkan di kelas dua. Pada
waktu bersamaan ia bertemu dengan seorang gadis lewat perjodohan di internet
yang juga tidak mempermasalahkan Tourettnya.
Pada hari pertama ia mengajar, banyak murid yang antusias
bertanya mengenai Tourettnya dengan bahasa polos anak usia 7 tahun-an. Bred pun
menjawab dengan antusias juga. Singkat cerita, semua anak yang dijarnya sangat
senang dan mereka menjadi bersemangat pergi ke sekolah. Cerita bergulir sampai
akhirnya ada penilaian untuk para guru dan Bred terpilih sebagai Teacher of the year.
Dia selalu mengatakan bahwa guru terbesarnya adalah
Tourette. Tourette telah memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya. Bukan hal
yang mudah memang tetapi ia telah membuktikan bahwa ia menjadi pemenang atas
Tourettenya.
Film ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, bahwa
manusia terlahir dengan sebuah kelebihan dan kekurangan masing-masing namun
jangan pernah membiarkan kekuarangan mengendalikanmu dan mengalahkanmu dan
menghalangimu untuk menggapai cita-cita dan impianmu.
Semangat !!!!! J

