Kamis, 27 Desember 2012

Apa salah Banana ?

pisang, siapa yang tidak suka buah yang 1 ini. Menjadi hal yang aneh ketika ada orang yang tidak suka pisang. Selain memang enak rasanya, buah ini juga kaya akan gizi yang terkandung didalamnya. Dan dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Bahkan dalam keluargaku, obat termajur ya buah pisang. selalu ada pisang dirumah ketika ada orang sakit.
Dan inilah yang juga terjadi di rumah nenekku dan rumahku 2 hari yang lalu. Harus aku akui, mata ini selalu cemerlang ketika melihat pisang. Dimana ada pisang disitulah aku beraksi. Pisang, cemilan paling menyehatkan sekaligus mengenyangkan, sampai tak sadar aku hampir menghabiskannya dan hanya meninggalkan 1 buah dari 7 buah yang tersisa dalam 1hari. Rakus ya? tidak juga sih, aku tidak makan nasi seharian dan tidak ada cemilan yang mengenyangkan selain pisang jadilah si pisang sebagai pelampiasan. 

Masalahpun muncul ketika tanteku menegurku bahwa pisang yang aku makan itu pisang simbahku yang baru sakit, dan aku telah menghabiskannya. Siapa yang tahu kalau hanya simbahku yang boleh makan pisang itu, sudah terlanjur masuk badan mau diapakan lagi ? terlanjur. Dan entah mengapa aku tidak merasa menyesal, malah ingin ketawa sendiri :D

Tidak hanya sampai disitu, keesokkan harinya ketika aku pulang kerumah, dirumahpun ada pisang raja yang notabene adalah pisang paling enak, paling bergizi, dan paling mahal. Perutpun bergejolak minta untuk diisi, jadilah aku memakannya bersama adikku dan hanya menyisakan 1 buah dari 3 buah yang ada. Jrenggg... jreennnggg ternyata itu pisang buat obat ayahku yang lagi sakit diare. Ayahku tak bisa berkata apa-apa selain mengelus dada, heran sama anaknya yang pada ga sopan udah menghabiskan pisang obatnya.

Salah siapa coba? perut lapar, ada pisang tergelatak ingin dimakan, dan aku tahu kalau itu obat setelah termakan semua dan hanya meninggalkan  1 buah.
Pisang pisang, sungguh kau sangat diperebutkan :D

Jumat, 30 November 2012

Front of The Class


Front of The Class, sebuah film awal 2000-an tetapi aku baru mengetahui dan menontonnya kemarin. Sangat terlambat memang tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali untuk sebuah film yang menurut saya sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran bagi saya.

Menceritakan seorang  anak yang bernama Bredley Cohen yang terlahir normal pada awalnya namun ketika berumur 6 tahun harus mengalami kelainan. Dimana otak  mengirim sinyal pada sarafnya untuk mengeluarkan suara-suara dan gerakan aneh. Mulai dari sanalah hidup Bred (red- biasa ia disapa ) mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Hidup dengan seorang ibu single parent dan seorang adik yang normal bernama Jeff, kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih kecil. Ayahnya yang sering memarahinya karna Bred sering mengeluarkan suara-suara aneh dan dia tidak bisa menerima bahwa anaknya mengalami sebuah kelainan. Dikeluarkan dari sekolah karna Bred dianggap mengganggu konsentrasi temannya saat proses pembelajaran di kelas. Sering dibully oleh teman-temannya bahkan Bred tidak punya teman sama sekali.

Namun ibunya tidak pantang menyerah dalam menyembuhkan anaknya, sampai pada suatu ketika ibu Bred mengetahui bahwa kelainan yang diderita oleh Bred adalah Tourette Sindrom dan tidak bisa disembuhkan. Walau begitu ia tetap berusaha agar Bred bisa hidup normal selayaknya anak seusianya. Ia selalu menyemangati Bred agar jangan pernah kalah dengan Tourettnya. Ia pun harus sering mengahadap ke kepala sekolah karna Bred dikeluarkan dari sekolah, namun ia tetap yakin bahwa ada sekolah yang akan menerima Bred kembali.

Ceritanya pun terus bergulir sampai ia lulus dari kuliah sebagai lulusan terbaik dan melamar pekerjaan sebagai seorang guru.Karna cita-citanya adalah menjadi guru dan dia hanya ingin menjadi guru. Awalnya mereka terkesan dengan CV dan torehan prestasi Bred, namun berbalik 180 derajat ketika masuk pada tahap wawancara. Hampir semuanya merasa terganggu dengan kelainan Bred dan mereka yakin bahwa Tourette akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. 25 sekolah menolaknya pada tahap wawancara. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan sebuah sekolah yang tidak mempermasalahkan Tourettnya dan menerimanya menjadi guru. Ia ditempatkan di kelas dua. Pada waktu bersamaan ia bertemu dengan seorang gadis lewat perjodohan di internet yang juga tidak mempermasalahkan Tourettnya.

Pada hari pertama ia mengajar, banyak murid yang antusias bertanya mengenai Tourettnya dengan bahasa polos anak usia 7 tahun-an. Bred pun menjawab dengan antusias juga. Singkat cerita, semua anak yang dijarnya sangat senang dan mereka menjadi bersemangat pergi ke sekolah. Cerita bergulir sampai akhirnya ada penilaian untuk para guru dan Bred terpilih sebagai Teacher of the year.

Dia selalu mengatakan bahwa guru terbesarnya adalah Tourette. Tourette telah memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya. Bukan hal yang mudah memang tetapi ia telah membuktikan bahwa ia menjadi pemenang atas Tourettenya.

Film ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, bahwa manusia terlahir dengan sebuah kelebihan dan kekurangan masing-masing namun jangan pernah membiarkan kekuarangan mengendalikanmu dan mengalahkanmu dan menghalangimu untuk menggapai cita-cita dan impianmu.
Semangat !!!!! J

Senin, 05 November 2012

Ayuukkk Menulis !!!

kenapa?
jawabannya pun ga asal jawaban pastinya. Kemarin saya bertemu dengan seseorang yang inspiratif menurut saya dan mungkin bagi banyak orang yang telah bertemu dengannya. Orangnya masih muda, lulusan Ilmu Politik UGM, nama beliau Agung Baskoro. Seorang penulis buku "Status Update" for the best student . Hal yang paling membuat saya tergugah untuk lebih semangat lagi menulis adalah ketika beliau memaparkan sebuah kutipan kata-kata dari Pramoendya Ananta Toer,

" Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian "

yups, kata Menulis adalah bekerja untuk keabadian lah yang membuat saya semangat. Dengan menulis kita akan meninggalkan sebuah keabadian dan sejarah. Lebih dari itu adalah keberadaan kita di dalam menyarakat adalah abadi walaupun raga kita sudah tidak ada.

Pernah dalam suatu kesempatan, salah satu guru saya mengatakan "pena lebih tajam dari pikiran". Maka tulislah, menulislah. Karna pikiran atau otak kita belum tentu mengingat semua yang kita lihat dan dengar.

Mas Agung Baskoro juga mengatakan menulis itu bukan membaca, bukan menulis dengan membaca, atau bahkan mengedit. Menulis ya just write, just write that what you think. pure menulis itulah menulis yang sebenarnya. cukup dengan duduk manis, sebuah kertas di meja dan pena ditangan dan menulislah. Tulis 1 kata pertama atau 1 kalimat pertama dan selanjutnya akan mengalir dengan sendirinya. Kita diam tapi pikiran   kita menari-nari dengan ribuan kata yang serasa berebut ingin keluar dan dibubuhkan dalam kertas kita.

Dalam suatu artikel yang pernah saya baca, menulis juga dapat melangsingkan tubuh. dengan menulis hal-hal yang positif disekitar secara rutin setiap harinya akan menurunkan berat badan kita. tentu saja, banyak sekali manfaat yang akan kita dapatkan dengan menulis. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk ragu menulis.

Ayuukk menulis, menulis cerdas karna menulis adalah bekerja untuk keabadian.
 semangat menulis !!!! :)

Selasa, 16 Oktober 2012

Kembali ke Posisi Awal


Meyakinkan diri sendiri  bahwa ini hanya lelucon belaka jadi tak perlu berharap lebih terhadap apa yang belum pasti. Sudah cukup dengan apa yang terjadi 1 tahun silam, janganlaj terulang kembali. yakin bahwa jikalau memang takdir pasti akan dipertemukan di waktu yang terbaik.

Kembali ke posisi awal ketika hanya mengenalnya dari cerita orang lain.
Kembali ke posisi awal ketika hanya mengenalnya sebagai seseoranh yang yang cerdas, pintar dan bersahaja.
Kembali ke posisi awal ketika hanya mengagumi tulisan,ucapan dan tindakannya saja.
Kembali ke posisi awal ketika tau banyak orang yang menunggunya kecuali 1 orang.
Kembali ke posisi awal ketika tidak ada 1 harapanpun untuk mengenalnya secara mendalam.

Ingin kembali ke 1 tahun terakhir, dimana hidup benar-benar untuk pribadi dan keluarga.
Tetapi terimakasih telah memberikan inspirasi dan kebahagiaan di hari jadi walau tanpa ucapan selamat sekalipun.

Tidak ada yang salah dari dia, mungkin besarnya harapan menjadikan lupa kalau posisi awal adalah tak mengenalnya.

Karna sesungguhnya cinta terbesar hanya untuk Sang Khaliq, Allah SWT.

Percaya, sesuatu dari-Mu pastilah indah pada waktunya.

Semangat !!! :)

Jumat, 28 September 2012

Jika Guru Adalah Jalan Saya

Guru adalah sebuah profesi yang sangat teladan menurut saya. Dilihat dari kacamata manapun pasti tak ada yang menampik bahwa hidup kita selalu berhubungan dengan guru walaupun kita sudah tidak mengenyam bangku sekolah. Tapi, tak pernah sebelumnya saya berfikir akan melanjutkan kuliah di jurusan matematika dan berada di prodi pendidikan matematika yang notabene akan menjadi seorang pengajar.


Baru satu bulan saya menempuh perkuliahan dan kata dosen saya 2 semester ini saya belum akan bertemu dengan matematika. padahal 1 tahun itu terhitung lama dan selama itu pula saya belum bertemu matematika. Tapi karna saya sudah terlanjur tercebur maka hal yang harus saya lakukan agar tak tenggelam hanyalah berenang. Memulainya dengan niat, 'Okelah jikalau ini memang jalan saya, berilah kelancaran ya Alllah'. Dan menjalaninya dengan sebaik yang saya bisa lakukan.

Terbersit harapan jikalau memang guru adalah jalan saya, besar harapan saya bisa menjadi guru yang baik, yang bisa memaksimalkan potensi anak didik saya nantinya. Menjadi pertransfer ilmu dimana ilmu yang saya transfer bisa dipahami anak didik saya secara maksimal. Mereka menjadi paham dan termotivasi untuk menggali ilmu lebih dalam sampai ke akar-akarnya.

saat menulis ini, saya tak tau apakah guru memang jalan hidup saya. Tapi ketika memang itulah takdir dan jalan hidup saya semoga saya bisa berkontribusi sebaik mungkin yang saya bisa. Dan semoga bisa mengantarkan anak didik saya menjadi manusia yang optimal dalam segala hal..





Rabu, 19 September 2012

I'm in abstract Area


Tak pernah sebelumnya saya membayangkan akan terjerumus dalam dunia yang penuh dengan keabstrakan. Ya keabstrakan. Mempelajari hal yang abstrak, bergelut dengan hal yang abstrak dan menghitung sesuatu yang abstrak. Everything is abstract. Mengenalnya sudah lebih dari 5 tahun tapi tak pernah sedikitpun saya mengetahui bahwa saya mempelajari sesutu yang abstrak bahkan sampai detail-detailnya juga abstrak. Ini sangat-sangat keterlaluan. Dan saya berfikir 5 tahun ini saya kemana saja???  5 tahun berada dalam kesesatan yang  tak ada 1 orangpun yang pernah meluruskannya. Padahal 5 tahun ini saya bertemu dengan bemacam orang yang menurut saya sudah profesional dibidangnya. Hmmm... I don’t know who is do mistake in there.. but, I only know that now I’m in abstract area..

Bilangan dan angka  adalah abstrak. Garis, bidang, bangun ruang, dan all about in mathematic is abstract. Ketika saya berada dalam kelas geometri, salah satu dosen saya menanyai saya,
 “ bisakah kamu menghitung berapa panjang garis?
Dan dengan polosnya dan dengan yakin tiada terkira  saya menjawab,
 “ bisa pak”
 lalu dia menanyai saya lagi ,
“ pernahkah kamu melihat garis?”
 ya karna pada detik itu saya masih dalam area kesesatan ya saya jawab,
” pernah pak”
Dia masih menanyai saya lagi “ dimana?”
Karna pada waktu itu ada gambar garis di papan tulis maka saya menunjuk garis itu’
“ itu pak, yang ada di papan tulis”
Dia tak menjawab apa-apa awalnya, hanya tersenyum dengan senyum yang entahlah. Mungkin dia berfikir bahwa ini anak kok seenaknya jawab pertanyaan, sudah begitu PeDe lagi jawabnya. Namun, setelah beberapa detik, dia menjawab,
“ itu bukan garis, tetapi ruas garis. Matematika adalah abstrak jadi semua yang ada didalamnya juga demikian. Garis itu abstrak. Hanya ada di dalam fikiran kita. Ketika kita mengukurnyapun tak bisa karna garis adalah abstrak. Yang digambar di papan tulis adalah simbol dari garis, namanya ruas garis”
“oooooo.........,”
Tak pernah ada luas persegi panjang, tetapi luas bidang persegi panjang. Karna persegi panjang adalah sekali lagi saya harus menuliskan ABSTRAK.

Semua objek matematika yang dapat kita lihat adlah simbol dari objek asli matematika yang abstrak. Dan mata kuliah Geometri yang dulu saya kira banyak menggambar telah sirna. Semuanya dibanyangkan dan hanya pada kondisi darurot dan genting, kondisi dimana alam bayangan kita sudah tidak mampu lagi untuk membayangkanlah aktivitas menggambar itu ada.

Keabstrakan ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi mulai sekarang keabstrakan itu akan menjadi makanan setiap hari saya. Ehmmm, sulit mengekspresikan harus bagaimana perasaan saya bertemu dengan keabstrakan. Senyumkah, bengongkah, sedihkah atau bahkan lama-lama bisa jadi saya menjadi abtsrak  sekalian.. I don’t know.. hahaha




Rabu, 05 September 2012

man jadda wajada

Man Jadda Wajada, kalimat yang dijadikan sebagai "mantra" oleh ahmad fuadi sang penulis novel best seller 'Negeri 5 Menara' ini telah menginspirasi banyak orang termasuk insan perfilman indonesia. Hari ini tanggal 5 September 2012 tepat di hadapanku berdiri sosok yang telah menggaungkan 'mantra' ini. Ternyata orangnya sederhana dan jelas sekali terlihat bahwa di parasnya sudah mencerminkan sosok yang selalu semangat, pantang menyerah dan berani keluar dari zona aman dan zona rata-rata.

Sosoknya tidak begitu banyak bicara tapi sedikit bicaranya itulah yang selalu bermakna. Kata-kata yang keluar darinya tidak heboh seperti motivator-motivator pada umumnya tetapi pilihan kata yang dipakainya selalu membuat saya tersenyum. sedikit lirih tetapi saya bisa menangkap bicaranya.

Ada salah satu kalimat yang menginspirasi saya ketika dia bercerita tentang masalah beasiswa. Dia telah banyak mendapatkan beasiswa ke luarnegri dan semuanya bergengsi. kembali ke kalimat tadi, dia mengatakan bahwa 'orang yang mendapatkan beasiswa bukanlah karna dia pintar tetapi lebih karna dia melebihkan usahannya diatas rata-rata'. setiap saya menempuh pendidikan selalu yang saya harapkan adalah beasiswa. bukan karna orang tua saya tidak mau membiayai pendidikan saya tetapi ada kesenangan tersendiri ketika mendapatkan sesuatu dari apa yang telah kita kerjakan khususnya dalam bidang pendidikan.

siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan, menjadi motivasi bagi saya untuk menggapai cita-cita. Karna saya percaya Allah selalu disisi saya, Dia mengetahui lebih daripada saya. Tugas saya adalah bersungguh-sungguh dan sabar serta yakin, keberhasilan bersamaku.

semangatttt !!!

Jumat, 17 Agustus 2012

sudahkah kita merdeka ?

Sudah 67 tahun indonesia merdeka. selama itu pula banyak perubahan yang terjadi di negri yang kaya akan rempah-rempah ini. termasuk perubahan akan makna merdeka itu sendiri. Dulu awal kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan terlepas dari penjajah, bebas menentukan nasib negara kita tanpa campur tangan negara lain, dan bebas menentukan mau menjadi apa negara ini.

Namun setelah 67 tahun setelah kemerdekaan makna itu bergesar bukan hanya semata terlepas para penjajah melainkan kemerdekaan mulai dimaknai menjadi tujuan untuk terlepas dari kebodohan dan kemiskinan. bila dilihat dari 2 sisi tersebut tentu indonesia masih jauh untuk menjangkau kemerdekaan. Masih banyk sekali kita temui anak yang putus sekolah dan berali menjadi pekerja dengan masih karna alasan klasik yakni ekonomi. kemiskinan sudah menjadi akar dari banyak permasalah di imdonesi. Tidak hanya penyebab banyak anak putus sekolah tetapi juga kriminalitas yang semakin merajelela. Menyalahkan kemiskinan yang berkepanjangan ini saja bukan suatu langkah yang bijak. Tidak ada gunanya kita menyalahkan pemerintah, ini tidak akan efektif.

Bila menilik lebih jauh kebelakang, sebenarnya para penjajah masih menjajah kita bukan secara fisik tetapi secara kebiasaan yang ditanamkan penjajah yang sampai sekarang masih dilestarikan bangsa ini. Salah satunya tidur siang yang dimanfaatkan para penjajah untuk merancang strategi perang selagi bangsa ini tertidur lelap.

Dan bagaimana kita benar-benar dijajah hasil buminya. bagaimana tidak, indonesia yang cadangan minyaknya berlimpah harus mengalami krisis BBM.. padahal kita punya banyak titk kilang minyak di sepanjang lepas pantai indonesia.  Angka impor minyak yang masih jauh tinggi dibandingkan dengan ekspornya sudah menjadi indikator kalau betapa belum merdekanya negri ini walau hanya dalam hal minyak yang sejatinya milik negara kita sendiri.

SDM yang rendah menjadi alasannya yang akhirnya berdampak pada kerugian indonesia sendiri. kita sudah banyak tertipu dalam hal perjanjian kerjasama dimana indonesia sebagai sumbernya harus mendapatkan sabagian kecil keuntungan.  karna kita tidak bisa mengeksplor SDA kita sendiri tanpa bantuan dari negara lain. lalu apakah ini yag dinamakan merdeka ?

Belum lagi jika berbicara tentang budaya kita yang sedikit demi sedikit sudah mulai tergerus dengan budaya asing yang semakin lama merajai di kalangan bangsa ini. jepang, korea, barat salah sedikit dari budaya yang merajai di kalangan para pemuda indonesia. mereka lebih bangga jika mengenakan atribut luar dibanding atribut negara sendiri. apakah ini merdeka?

lalu dari sisi mana lagi indonesia bisa dikatakan merdeka?
menjadi tugas kita, pemuda- pemudi penerus bangsa.

Rabu, 15 Agustus 2012

Sebuah Sapaan yang Melegakan


Sebuah sapaan merupakan bentuk sederhana dalam menjalin silaturrahmi. Tak perlu modal apa-apa saat kita menyapa orang hanya dengan memanggil namanya saja sudah menjadi sebuah sapaan. Namun hal ini tidak berlaku bagi 3 tahun terakhir  ini, begitu sulit aku menyapa seseorang. Seseorang yang pernah menjadi guruku. Walau hanya 1 tahun diajar olehnya di sekolah formal, namun sudah lebih dari 7 tahun beliau menjadi guru ngajiku di madrasah. Ada saja yang membuat aku tidak bisa walau hanya sekedar menyapa , dari beliau yang sedang berbincang dengan orang lain, beliau yang tidak melihat saya, sampe beliau yang terlihat cuek.

Terkadang aku berpikir apakah beliau masih marah dengan kejadian 5 tahun yang lalu dimana aku protes tentang nilaiku yang menurutku sangat tidak adil. Dimana setelah itu beliau tidak lagi mengajar di tempatku sekolah formal lagi.

Tapi tadi malam semua dugaanku terpatahkan, bagaimana tidak sapaan yang dari kemarin mandeg di tenggorokanpun akhirnya bisa terucap juga. Bukan aku dulu yang menyapanya melainkan beliau dulu yang menyapaku. Waahh.. senengnya bukan main, ternyata beliau masih ingat dan memperhatikan sepak terjangku 3 tahun terakhir ini.

Bukan hanya sekedar sapaan tapi beliau menanyakan banyak hal tentag sekolahku dan kuliahku. Mungkin kalau ini sapaan dari orang lain tidak akan membuatku seneng bukan kepalang seperti ini tapi ini beliau yang sungguh  saat menjadi guruku  aku sempat membencinya tapi juga aku ewuh padanya.

Ini mungkin menjadi sebuah sapaan yang paling melegakan dalam hidupku, sungguh menduga-duga itu sangatlah tidak mengenakkan.

Semoga dengan ini, jalinan silaturrahmi aku dan beliau bisa semakin erat. Amin J