Maklum baru
anak-anak?
Kenapa saya
menjadikan kalimat itu menjadi pertanyaan? Nah jawabannya ada pada diri kita
sendiri. Sering kita mendengar atau bahkan mengucapkannya namun dengan intonasi
bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Terkadang memang sebagai orang dewasa
kita harus meklumi mereka karna mereka masih anak-anak tetapi lain ceritanya
kalau sudah menyinggung tentang agama. Dalam hal ini adalah di saat kita
melaksanakan salat.
Salat yang sejati
sebagai wadah komunikasi kita kepada sang Khaliq harus mendengar suara teriakan, celotehan, gurauan anak-anak
yang sudah tidak ada kontrol sama sekali pasti membuat kita sangat
terganggu.
Kita menjadi tidak khusuk dan sulit untuk berkonsentrasi dalam salat.
Pertanyaan pun
muncul,siapa orang tua mereka ? dimana
orang tua mereka?
Memang sudah
menjadi kewajiban kita sebagai orang dewasa untuk memperkenalkan anak tentang
rumah Allah, salat di masjid atau apa saja yang berhubungan dengan ibadah.
Namun beda ceritanya kalau sudah seperti paparan diatas. Seharusnya kita
sebagai orang dewasa tidak hanya berkewajiban memperkenalkan namun juga memberi
mereka bekal tentang tata krama, etika, dan sopan santun saat di masjid.
Mungkin ada yang berdalih,” kan masih anak-anak, nggak mudeng kalau dikasih tau
tentang hal seperti itu?” jawabannya pun sederhana saja, kita bisa kok
menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan bahasa anak yang mudah
mereka pahami.
“nanti kalau dimasjid jangan gaduh ya” atau “ nanti
waktunya salat adek salat disamping kakak ya, nggak boleh lari-lari nanti Allah
marah” atau “ boleh ikut ke masjid tapi harus baik, ikut salat sampai akhir,
nggak boleh gaduh”. Itu masih sebagain kecil cara kita memberi tau anak-anak.
Dan tentunya kita sebagai orang dewasapun juga memberi contoh. Jangan kita ngasih
tau anak-anak tapi kita malah ngerumpi misalnya di masjid. Yah, kalau itu sama
saja. Nggak ada bedanya kita sama anak-anak donk kalau gitu.
Nah jadi tidak ada
alasan kita untuk bilang “ maklum masih anak-anak” karna kata itu tidak akan
terlontar kalau kita sebagai orang
dewasa sudah membekali mereka dari rumah dan juga mengontrol mereka.
Sebenarnya kata “
maklum masih anak-anak” akan terekam oleh anak itu sendiri yang bisa juga
membuat mereka merasa dibela dan tidak ada rasa jera. Mereka juga akan merasa
bahwa apa yang mereka lakukan itu wajar, dan terbawa sampai mereka besar.
Menjadi renungan
kita semua karna kuat tidaknya agama kita berdiri di masa depan tergantung dari
para generasi muda di masa sekarang. So, mari bersama-sama membangun kekuatan bisa
dimulai dari hal terkecil, dari diri sendiri dan mungkin dari lingkungan keluarga kita.


