Sabtu, 09 Maret 2013

Maklum baru anak-anak?


Maklum baru anak-anak?

Kenapa saya menjadikan kalimat itu menjadi pertanyaan? Nah jawabannya ada pada diri kita sendiri. Sering kita mendengar atau bahkan mengucapkannya namun dengan intonasi bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Terkadang memang sebagai orang dewasa kita harus meklumi mereka karna mereka masih anak-anak tetapi lain ceritanya kalau sudah menyinggung tentang agama. Dalam hal ini adalah di saat kita melaksanakan salat.

Salat yang sejati sebagai wadah komunikasi kita kepada sang Khaliq harus mendengar  suara teriakan, celotehan, gurauan anak-anak yang sudah tidak ada kontrol sama sekali pasti membuat kita sangat 
terganggu. Kita menjadi tidak khusuk dan sulit untuk berkonsentrasi dalam salat.

Pertanyaan pun muncul,siapa orang tua mereka ?  dimana orang tua mereka?

Memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang dewasa untuk memperkenalkan anak tentang rumah Allah, salat di masjid atau apa saja yang berhubungan dengan ibadah. Namun beda ceritanya kalau sudah seperti paparan diatas. Seharusnya kita sebagai orang dewasa tidak hanya berkewajiban memperkenalkan namun juga memberi mereka bekal tentang tata krama, etika, dan sopan santun saat di masjid. Mungkin ada yang berdalih,” kan masih anak-anak, nggak mudeng kalau dikasih tau tentang hal seperti itu?” jawabannya pun sederhana saja, kita bisa kok menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan bahasa anak yang mudah mereka pahami.

“nanti kalau  dimasjid jangan gaduh ya” atau “ nanti waktunya salat adek salat disamping kakak ya, nggak boleh lari-lari nanti Allah marah” atau “ boleh ikut ke masjid tapi harus baik, ikut salat sampai akhir, nggak boleh gaduh”. Itu masih sebagain kecil cara kita memberi tau anak-anak. Dan tentunya kita sebagai orang dewasapun juga memberi contoh. Jangan kita ngasih tau anak-anak tapi kita malah ngerumpi misalnya di masjid. Yah, kalau itu sama saja. Nggak ada bedanya kita sama anak-anak donk kalau gitu.

Nah jadi tidak ada alasan kita untuk bilang “ maklum masih anak-anak” karna kata itu tidak akan terlontar  kalau kita sebagai orang dewasa sudah membekali mereka dari rumah dan juga mengontrol  mereka.
Sebenarnya kata “ maklum masih anak-anak” akan terekam oleh anak itu sendiri yang bisa juga membuat mereka merasa dibela dan tidak ada rasa jera. Mereka juga akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu wajar, dan terbawa sampai mereka besar.

Menjadi renungan kita semua karna kuat tidaknya agama kita berdiri di masa depan tergantung dari para generasi muda di masa sekarang. So, mari bersama-sama membangun kekuatan bisa dimulai dari hal terkecil, dari diri sendiri dan mungkin dari lingkungan  keluarga kita.

Mereka Membuatku Selalu Bersyukur


Salah satu hal yang harus dilakukan pertama kali ketika sebuah inspirasi datang kepada kita adalah langsung menuangkannya juga dalam sebuah action. Begitu juga halnya denganku, mendapati banyak peristiwa inpiratif dalam sehari membuat diri ini tak kuasa untuk langsung menuangkannnya dalam sebuah tulisan. 4 atau 5 bulan yang lalu aku menulisnya, hari dimana aku menjalani pengalaman pertamaku pulang ke rumah seorang diri. Let’s check this one out !! J
Untuk pertama kalinya pulang kerumah dari semarang seorang diri. Rasanya sangat menyenangkan. Bagiku ngebis itu memberikan suatu sensasi yang tidak biasa, memandang lalu lalang orang yang sibuk dengan urusan masing-masing, lalu lintas kendaraan dari mulai kendaraan yang ‘elit’(
 ekonimi sulit) sampai kendaran yang memang benar-benar elit, teriakan kenek yang berburu penumpang kesana kemari sampai para pengamen yang dengan PeDenya mengalunkan nyanyian dengan suara fales. Entah kenapa bagiku itu begitu menyenangkan.
Dibalik itu semua ada sesuatu yang menggelitikku. Rasa syukur yang teramat besar dengan apa yang telah aku dapat sekarang. Melihat kenek yang sepertinya 3 tahun dibawahku yang seharusnya belajar di sekolah justru harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di jalan. Bukan panas-panasan di lapangan sekolah untuk mengikuti olahraga atau bermain dengan teman sekolah melainkan harus berpanasan dengan terik matahari jalanan kota semarang. Dan aku, jarang terkena terik matahari tetapi bisa mengenyam bangku pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Dia mungkin setiap hari harus berfikir makan apa besok tetapi aku, sudah tersedia uang tinggal beli makan dengan mudahnya tanpa harus bekerja terlebih dahulu. Begitu besar nikmat yang Allah berikan.
Rasa sukur ini semakin bertambah ketika sampai di rumah. Melihat salah satu tetanggaku yang diberi kekhususan oleh Allah. Dilahirkan sebagai anak unik. Yang harus mengalami pertumbuhan lambat, yang harus bekerja lebih keras dari orang normal hanya untuk berjalan menggelitikku untuk melihat pada diriku sendiri. Dilahirkan dengan fisik yang sempurna, pikiran yang sempurna dan masih didampingi oleh 2 orang tua yang lengkap begitu sempurnya Allah menciptakan aku. Tak perlu aku harus berlatih berjalan lama, bersekolah di sekolah yang tidak harus Luar Biasa dan bisa pergi kemana-mana tanpa harus didampingi.
Sungguh sangat kebangetan sekali ketika aku lupa untuk bersyukur pada-Nya. Alhamdulillah, Kau telah menciptakanku dengan sangat sempurna dan memberiku banyak nikmat yang tida bisa aku hitung jumlahnya dan tiada bisa aku mengembalikannya pada-Mu. Trimakasih Allah untuk hari ini, melalui mereka Kau mengingatkanku untuk selalu ingat pada-Mu.. J

CODE


Disaat berselancar dengan file-file di laptop yang sudah menjerit untuk dirapikan tiba-tiba aku menemukan sebuah tulisan yang sudah lama aku buat. 7 bulan lebih tepatnya (2 bulan lagi melahirkan, :D). Saat dibaca-baca lagi, berganti ingatan itu berselancar dari memoriku dan kemudian tersadar bahwa aku pernah memiliki pengalaman yang berharga. Okelah, tak usah berlama-lama. Let’s check this one out !! J
Mendapatkan pengalaman baru adalah sebuah anugerah, banyak hal yang dapt diambil darinya. Apalagi kalau pengalaman barunya sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya atau hal yang melencong dari hobby atau kesukaan kita.
Dan inilah yang 5 hari terakhir ini sedang aku jalani. Mendapatkan pengalaman baru berjualan busana muslim. Aku yang kata orang pendiam, anak rumahan, dan jarang pergi ke pasar sekarang tiba-tiba jadi keranjingan ke pasar bukan untuk membeli tapi untuk menjual.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku bisa menjual apalagi melayani pembeli untuk menawar, melakukan tawar menawar harga. Disaat tawar menawar inilah yang memberikan aku ilmu pengkodean harga. Bagaimana sebuah harga di kodekan dan berapa sebuah barang ditawarkan dengan kode harga sebagai pertimbangan. Walaupun tugas awal aku disana hanya mengawasi para pembeli kalau-kalau ada pengutil, tapi sekarang sudah melencong jadi ikut menjual barang.
Hari selasa kemarin setelah 4 hari berprofesi sebagai penjual , aku sudah mengusai pengkodean harga. Dan tiba-tiba aku jadi seperti murid, teman-teman yang juga berjualan bersemangat memberikan tebakan tentang kode harga. Hmmmm, seperti anak SD  yang diberi tebakan perkalian, harus cepat menjawab dan tidak boleh salah.
Awalnya pengalaman ini melelahkan tapi sekarang begitu menyenangkan karna kode-kode itu.
1 hal yang menjadi menarik adalah patung-patung yang hidungnya mancung nggak ketulungan. Setiap hari mendandani mereka dengan kain suci jilbab, menghiasi kepala mereka dengan banyak jarum pentul dan bros serta variasi model jilbab.
Melihat cantiknya patung berjilbab apalagi itu adalah hasil karyaku memberikan semangat pada diri untuk lebih kreatif membuat kreasi model jilbab. Bermain dengan aneka warna jilbab, model jilbab apalagi denagan daleman jilbab yang variasinya banyak banget. Dari mulai daleman bisa, cepol, konde ( model ini banyak bentuknya dari yang tingginya sedang sampai yang tinggi banget ada ), ninja, topi dan banyak lagi yang lain.
Pengalaman ini  benar-benar manambah pengetahuanku, mangasah jiwa wirausahaku, menggali kreativitasku, dan melatih kesabaranku.
Tinggal 3 hari lagi setelah lebaran kembali ke kehidupan awal, BELAJAR dan KULIAH !!!