Jumat, 30 November 2012

Front of The Class


Front of The Class, sebuah film awal 2000-an tetapi aku baru mengetahui dan menontonnya kemarin. Sangat terlambat memang tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali untuk sebuah film yang menurut saya sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran bagi saya.

Menceritakan seorang  anak yang bernama Bredley Cohen yang terlahir normal pada awalnya namun ketika berumur 6 tahun harus mengalami kelainan. Dimana otak  mengirim sinyal pada sarafnya untuk mengeluarkan suara-suara dan gerakan aneh. Mulai dari sanalah hidup Bred (red- biasa ia disapa ) mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Hidup dengan seorang ibu single parent dan seorang adik yang normal bernama Jeff, kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih kecil. Ayahnya yang sering memarahinya karna Bred sering mengeluarkan suara-suara aneh dan dia tidak bisa menerima bahwa anaknya mengalami sebuah kelainan. Dikeluarkan dari sekolah karna Bred dianggap mengganggu konsentrasi temannya saat proses pembelajaran di kelas. Sering dibully oleh teman-temannya bahkan Bred tidak punya teman sama sekali.

Namun ibunya tidak pantang menyerah dalam menyembuhkan anaknya, sampai pada suatu ketika ibu Bred mengetahui bahwa kelainan yang diderita oleh Bred adalah Tourette Sindrom dan tidak bisa disembuhkan. Walau begitu ia tetap berusaha agar Bred bisa hidup normal selayaknya anak seusianya. Ia selalu menyemangati Bred agar jangan pernah kalah dengan Tourettnya. Ia pun harus sering mengahadap ke kepala sekolah karna Bred dikeluarkan dari sekolah, namun ia tetap yakin bahwa ada sekolah yang akan menerima Bred kembali.

Ceritanya pun terus bergulir sampai ia lulus dari kuliah sebagai lulusan terbaik dan melamar pekerjaan sebagai seorang guru.Karna cita-citanya adalah menjadi guru dan dia hanya ingin menjadi guru. Awalnya mereka terkesan dengan CV dan torehan prestasi Bred, namun berbalik 180 derajat ketika masuk pada tahap wawancara. Hampir semuanya merasa terganggu dengan kelainan Bred dan mereka yakin bahwa Tourette akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. 25 sekolah menolaknya pada tahap wawancara. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan sebuah sekolah yang tidak mempermasalahkan Tourettnya dan menerimanya menjadi guru. Ia ditempatkan di kelas dua. Pada waktu bersamaan ia bertemu dengan seorang gadis lewat perjodohan di internet yang juga tidak mempermasalahkan Tourettnya.

Pada hari pertama ia mengajar, banyak murid yang antusias bertanya mengenai Tourettnya dengan bahasa polos anak usia 7 tahun-an. Bred pun menjawab dengan antusias juga. Singkat cerita, semua anak yang dijarnya sangat senang dan mereka menjadi bersemangat pergi ke sekolah. Cerita bergulir sampai akhirnya ada penilaian untuk para guru dan Bred terpilih sebagai Teacher of the year.

Dia selalu mengatakan bahwa guru terbesarnya adalah Tourette. Tourette telah memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya. Bukan hal yang mudah memang tetapi ia telah membuktikan bahwa ia menjadi pemenang atas Tourettenya.

Film ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, bahwa manusia terlahir dengan sebuah kelebihan dan kekurangan masing-masing namun jangan pernah membiarkan kekuarangan mengendalikanmu dan mengalahkanmu dan menghalangimu untuk menggapai cita-cita dan impianmu.
Semangat !!!!! J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar